Oleh: Khafid Sirotudin
Hujan gerimis mengiringi kedatangan kami berdua di kota Semarang, Kamis 22 Januarii 2026. Kebetulan istri kepengin makan siang dengan lauk ayam gongso di warung pak Kul. Sebuah warung sederhana di sebelah selatan Stadion Citarum, berdekatan dengan Kantor Wilayah ATR/BPN dan Badan Kepegawaian Daerah Pemerintah Provinsi Jateng.
Warung yang berdiri sejak 1987 itu, menyediakan aneka menu gongso, goreng, penyet dan oseng-oseng berbahan baku daging dan jerohan ayam (uritan, hati ampela, usus), jerohan sapi (babat, iso), bebek, ikan (gurami, mujahir/nila, lele), tempe tahu dan sayuran (pete, kol goreng).
Sebelum membuka warung di Citarum (1987), pak Kulyadi bekerja sebagai juru masak pada sebuah restoran di sekitar Simpang Lima Semarang. Pak Kul –panggilan akrabnya– berasal dari Pedan, Kabupaten Klaten. Setiap hari beliau memimpin langsung operasional warung dengan kapasitas 40 tempat duduk, ditemani istri dan 6 karyawan.
Kecap Manis
Kecap manis adalah salah satu produk Industri Rumah Tangga (PIRT) khas lndonesia yang dipengaruhi sinkretisme budaya pangan warga Tionghoa dan masyarakat lokal nusantara, khususnya di Jawa. Hampir setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki merk kecap manis berbahan baku utama kedelai dan gula Jawa atau gula Aren.
Beberapa merk yang cukup terkenal, diantaranya: Mirama dan Kuda Piala kota Semarang, Lele dari Pati, Menjangan di Kudus, Kuda Terbang asal Blora, Kidang Jantra wilayah Kedu, Buah Siwalan kabupaten Rembang dan Udang dari Purwodadi Grobogan. Di wilayah pantai utara (Pantura) Jateng ada beberapa merk yang kesohor, yaitu Tomat Lombok, Djoe Hoa dan Ikan Merah dari Tegal, serta kecap Pulau Djawa yang banyak dipakai untuk memperlezat Taoto, makanan khas Pekalongan.
Rahasia kelezatan ayam gongso pak Kul terletak pada daging ayam kampung serta racikan bumbu, bawang bombay dan kecap manis yang digunakan. Sejak berdiri 1987 hingga saat ini (39 tahun) kecap manis yang dipakai tidak pernah berubah. Yaitu kecap cap Udang dari Purwodadi Grobogan.
Harga satu porsi nasi ayam gongso Rp35.000. Lebih lezat dan bergizi dibandingkan nasi ayam goreng tepung krispi berbahan baku ayam potong (broiler, ayam sayur) ala francise merk asing. Dijamin lebih “nyamleng” (enak sekali) jika kita tambahkan petai atau petai goreng. Bagi warga luar kota Semarang dan belum pernah menikmati makan siang dengan menu nasi ayam gongso atau ayam penyet pak Kul, boleh sesekali dicoba. Dijamin anda ketagihan untuk datang kembali.
Hujan rintik-rintik masih turun seusai kami menikmati sepiring nasi ayam gongso. Kami pun tak lupa membawa 5 kotak nasi ayam gongso sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Semarang, 22 Januari 2026
*) Ketua Lembaga Pengembang UMKM PWM Jateng 2023-2028







